Pengenalan dan Pengelolaan Emosi bagi Guru :
Upaya Preventif Mencegah Stres Fisik melalui Aktivasi Vagal Break
Guru memiliki peran sentral dalam membentuk kesehatan mental dan emosional anak. Namun, tekanan peran, tuntutan pekerjaan, serta dinamika pengasuhan yang kompleks sering membuat orang dewasa mengalami stres emosional yang tidak disadari. Stres ini, apabila berlangsung terus-menerus, dapat memicu respons fisiologis berupa peningkatan hormon stres yang berdampak pada kesehatan fisik.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta di SDIT Luqman Al Hakim 2, Yogyakarta, berfokus pada upaya pengenalan dan pengelolaan emosi pada guru sebagai langkah pencegahan stres fisik jangka pendek yang berpotensi berlanjut menjadi gangguan kesehatan jangka panjang
Mengapa Pengenalan Emosi Itu Penting?
Pengenalan emosi merupakan kemampuan individu untuk menyadari emosi yang muncul dalam diri, terutama emosi negatif seperti marah, kecewa, takut, dan cemas. Dalam kegiatan PKM ini terungkap bahwa sebagian besar guru belum terbiasa mengenali emosi secara sadar, sehingga emosi sering ditekan atau diluapkan dalam bentuk respons yang kurang adaptif.
Ketidakmampuan mengenali emosi menyebabkan tubuh berada dalam kondisi siaga yang berkepanjangan. Hal ini mengaktifkan sistem saraf otonom secara tidak seimbang dan memicu keluarnya hormon stres seperti kortisol, yang berdampak langsung pada keluhan fisik seperti kelelahan, nyeri otot, peningkatan tekanan darah, hingga gangguan tidur
Hubungan Emosi, Sistem Saraf, dan Stres Fisik
Materi yang disampaikan dalam pelatihan menekankan bahwa emosi tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga memiliki manifestasi biologis. Salah satu mekanisme utama yang terlibat adalah sistem saraf otonom, khususnya saraf vagus. Ketika emosi negatif tidak dikelola dengan baik, tubuh mengalami aktivasi stres yang ditandai dengan penurunan keseimbangan sistem saraf parasimpatis. Hal ini tercermin dari hasil pengukuran Heart Rate Variability (HRV) peserta PKM, di mana rata-rata nilai HRV berada pada kategori rendah, menunjukkan tingginya beban stres fisiologis pada guru
Strategi Pengelolaan Emosi melalui Aktivasi Vagal Break
Sebagai solusi praktis, kegiatan PKM ini memperkenalkan konsep vagal break, yaitu teknik sederhana untuk “mengerem” respons stres tubuh melalui aktivasi sistem saraf parasimpatis. Strategi yang diajarkan meliputi:
- Mengenali emosi negatif secara sadar
Peserta dilatih untuk menyadari emosi yang muncul sebelum emosi tersebut memengaruhi sikap dan perilaku.
- Mengenali sinyal fisik akibat emosi
Ketegangan leher, dada terasa sesak, atau napas pendek dikenalkan sebagai tanda awal tubuh berada dalam kondisi stres.
- Latihan aktivasi saraf bawah sadar
Melalui teknik pernapasan, fokus kesadaran tubuh, dan stimulasi saraf tertentu, peserta diajak menurunkan ketegangan fisik secara cepat.
- Mereorganisasi dan merelease emosi
Emosi yang telah dikenali tidak ditekan, tetapi dilepaskan dengan cara yang sehat agar tidak menumpuk dalam tubuh.
Pendekatan ini diperkuat dengan media leaflet, booklet, dan praktik langsung sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di sekolah
Dampak Kegiatan terhadap Peserta
Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam peningkatan kesehatan masyarakat, tim dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SDIT Luqman Al Hakim 2 Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengenali dan mengelola emosi guna mencegah stres fisik jangka pendek yang berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang.
Kegiatan PKM yang diikuti oleh 45 guru ini menunjukkan hasil yang positif. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan praktis dalam mengelola emosi.
Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, peserta dibekali pemahaman bahwa emosi negatif yang tidak dikelola dapat memengaruhi sistem saraf dan memicu keluarnya hormon stres. Peserta juga dilatih untuk mengenali sinyal fisik akibat stres, memahami hubungan emosi dengan kondisi tubuh, serta menerapkan teknik sederhana untuk menenangkan diri dan menurunkan ketegangan.
Sinergi antara perguruan tinggi, sekolah, dan guru menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Ketika orang dewasa memiliki keterampilan pengelolaan emosi yang baik, lingkungan rumah dan sekolah akan menjadi lebih aman, tenang, dan suportif bagi anak. Diskusi dan evaluasi menunjukkan bahwa peserta mulai mampu untuk :
- Mengenali emosi negatif yang muncul dalam diri
- Menyadari hubungan antara emosi dan keluhan fisik
- Menerapkan teknik pengelolaan emosi untuk menurunkan stres
Antusiasme peserta selama sesi diskusi dan praktik menunjukkan bahwa edukasi pengelolaan emosi merupakan kebutuhan nyata bagi guru dalam mendukung kesehatan diri sendiri maupun anak
Penutup
Pengenalan dan pengelolaan emosi merupakan fondasi penting dalam menjaga kesehatan jiwa dan raga. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan pendamping emosional yang stabil cenderung memiliki kemampuan regulasi diri yang lebih baik, lebih percaya diri, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Melalui edukasi berbasis aktivasi sistem saraf dan pendekatan holistik, guru dapat mencegah stres emosional berkembang menjadi gangguan fisik.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di SDIT Luqman Al Hakim 2 ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan emosional bukan hanya isu psikologis, tetapi bagian integral dari kesehatan fisik dan kualitas hidup keluarga serta lingkungan sekolah. Selain itu, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa pengelolaan emosi bukan hanya kebutuhan individu, tetapi bagian penting dari upaya bersama dalam membangun masyarakat yang sehat. Dengan dan guru yang sehat secara emosional dan fisik, langkah menuju Generasi Emas Indonesia menjadi semakin nyata.
